Selasa, 20 Juli 2010

Anekdot Sufi

Dialog Ahli Syari'at Dan Ahli Hakikat

Perdebatan antara ulama fikih/syari'at dan ulam hakikat sepertinya tak pernah berujung. Sejak dulu hingga kini, persoalan itu masih terus bergulir, meski banyak buku-buku tentang sufisme yang menjelaskanhubungan antara keduanya. Termasuk karya termasyur Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Biasanya, ulama fikih atau syari'at selalu menuduh bahwa ahli tasawuf banyak menyimpangkan ajaran Islam.
Tapi dalam dialog di sebuah majelis sufi, seorang ulama fikih kali ini seperti dibuat tak berdaya. Bahkan ulama tersebut justru membenarkan pandapat yang dikemukakan ahli hakikat.

"Menurut Anda, " tanya ahli hakikat mengawali dialog, "jika Anda memiliki 40 ekor kambing, lalu berapa ekor kambing yang wajib dikeluarkan zakatnya?"
"Berdasarkan ketentuan fikih, satu ekor." Sang Sufi pun manggut-manggut.
"Sebaliknya, berapa menurut Anda?"
Secara hakikat, ya semuanya," jawab sang Sufi spontan.
"Lho, kok, bisa begitu?Buat apa kita memelihara kambing kalau harus diberikan semuanya pada tahiq, bukankah kambing itu sebagiannya sudah menjadi milik kita?"
"Anda benar. Tapi Anda juga harus tahu bahwa kambing-kambing yang kita pelihara itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Itu secara hakikat. Kita hanya diberi amanah oleh Allah, karena punya Allah, maka kita tidak berhak mengklaim bahwa kambing-kambing itu milik kita."

Ahli fikih hanya bisa diam. Ia lalu mencoba menggali makna dari ucapan ahli hakikat tadi.

Petuah Bijak

"Setiap butir nasi dan tetes air yang memasuki tenggorokanmu, perhatikan asal-usul kebenaran dan kebatilannya, posisi halal-haramnya. Sebab engkau sedang mengawali dan memproses takdir bagi anak-anak dan cucu-cucumu."

( Cak Nun )

Humor Gus Dur

Tiga Presiden Adu Kehebatan

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Preiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis saja yang punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa....setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.
Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"
Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"
"Itu...patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.
Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.
Presiden Indonesia: "Wah...kok bisa tau jga?"
"Itu...menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut.
Karena disombongin Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.
"Lho kok bisa tau sih?"tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.
"Ini...jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.

Al-Hikam

Pergilah Menuju Sang Pencipta Alam


"Janganlah engkau berpindah dari satu alam ke alam yang lain, karena itu akan membuatmu seperti keledai yang mengitari penggilingan. Keledai itu berjalan menuju ke satu tempat yang ternyata adalah tempat semula ia beranjak. Akan tetapi, pergilah dari alam menuju Sang Mahapencipta alam."Dan kepada Rabbmulah puncak segala tujuan."(an-Najm: 42)


Penjelasan:

Dalam menjalani proses kehidupan ini, sudahmerupakan sunnatullah bagi kita untuk melalui tahapan yang akan menggiring kita menuju ke sesuatu yang lain, tempat yang berbeda. Disini Syaikh Ibn 'Atha'illah berpesan, bahwa tahapan tersebut haruslah menuju tingkatan yang semakin baik, jangan sebaliknya atau tetap (dari situ ke situ seperti keledai tadi). Dan puncaknya adalah menuju Allah Ta'ala.