Jumat, 23 Juli 2010

Anekdot Sufi

DEBAT DI IDUL QURBAN

Seorang anak muda di Surabaya, ketika berlangsung Idul Adha kemarin, begitu bersemangat ingin mengirim SMS ke kawan-kawannya. Rupanya ada trend baru, selain ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Selamat Tahun Baru, kini mulai muncul trend selamat Idul Adha. Karena, sedang gandrung ke tasawuf, ia selalu ingin mengirim pesan selamat ala sufi, dengan materi yang sok Gusti Allah. (tapi semoga demikian). "Semoga Anda semakin dekat dengan Allah melalui Idul Adha ini." Ucapan yang baik dan terhormat.

Tapi ia mendapat balasan yang cukup memedihkan. "Agar Anda lebih dekat dengan Allah, sembelihlah nafsumu hari ini. Sebab saya tahu Anda tidak punya duit untuk berkorban."
"Lho, untuk menuju kepada Allah kan perlu nafsu!", balasnya.
"Nafsumu harus sirna dulu, hingga menyatu dengan nafsu-Nya."
"Memang Allah punya nafsu?" ia balik bertanya.
"Nafsu-Nya adalah Diri-Nya, dan dalam Diri-Nya."
"Maksud anda?"
"Ingat hadist, "Nafsur-Rahmaan"? Itulah, bahan Anda menyatu dengan-Nya."
"Jadi benar dong, kalau saya ke sana (Allah), dengan nafsu?"
"Salah!"
"Lho?"
"Karena kamu tidak bisa menuju kepada-Nya dengan nafsumu...."
"Hmmmm........"

Petuah Bijak

"Dua hal yang paling sering menghijab makhluk dari Allah SWT, yaitu kerisauan terhadap rezeki dan kecemasan terhadap makhluk."

( Syeikh Abu al-Hasan asy Syadzily )

Humor Gus Dur

Radio Islami


SEORANG Indonesia yang baru pulang menunaikan ibadah haji terlihat marah-marah.

"Lho kang, ngopo (kenapa) ngamuk-ngamuk mbanting radio?" tanya kawannya penasaran.
"Pembohong! Gombal!" ujarnya geram. Temannya terpaku kebingungan.
"Radio ini di Mekah tiap hari ngaji Al-Qur'an terus. Tapi di sini, isinya lagu dangdut tok. Radio begini kok dibilang radio Islami."
"Sampean tahu ini radio Islami dari mana?"
"Lha..., itu bacaannya 'all-transistor', pakai 'Al'."

Al-Hikam

Amal, Ahwal, Dan Maqam


"Baiknya amal merupakan hasil dari baiknya ahwal (keadaan spiritual). Sedangkan baiknya ahwal muncul setelah menggapai tahap kemapanan spiritual (maqam-maqam)."


Penjelasan :

Pada tingkatan ini, Syaikh Ibn Atha'illah lebih menitikberatkan pada tahap kemapanan spiritual, dimana amalan seseorang merupakan cerminan keteguhan iman yang dimilikinya. Hingga semakin baik kondisi batin seseorang, maka akan terwujud dalam setiap amalan yang dilakukannya.