Rabu, 30 Juni 2010

Al-Hikam

Muraqabah yang Tak Terhalang


"Jangan menunggu hingga selesai semua gangguan makhluk, sebab yang demikian itu akan menghalangimu dari muraqabah (mawas diri) kepada-Nya. Padahal Dia menempatkanmu disana."


Penjelasan :

Abdullah bin Umar ra. pernah berpesan, "Apabila engkau berada di waktu senja, maka janganlah sampai menunggu tibanya waktu pagi untuk melakukan suatu amal kebaikan. Demikian pula jika engkau tengah berada di waktu pagi, jangan sampai menunggu tibanya waktu senja untuk melakukan amal kebajikan. Pergunakanlah kesempatan secara bijak dan baik, sebelum kesempitan datang menderamu."

Pesan Syaikh Ibn Atha'illah, "Dan diantara keduanya itu, yakni kebaikan dan keburukan (waktu luang dan sempit) terletak ujian Allah Ta'ala di sana." Sebagaimana firman-Nya berikut ini : "Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan." (al-Anbiyaa' : 35)

Selasa, 29 Juni 2010

Al-Hikam

Takdir Allah Berlaku Bagi Setiap Hembusan Nafasmu


"Tiada suatu nafas berhembus darimu, kecuali di situ takdir Allah berlaku padamu."


Penjelasan :

Dalam setiap kandungan nafas manusia itu biasa terjadi sesuatu yang berkaitan dengan ketaatan maupun kemaksiatan kepada-Nya. Demikian pula dengan kejadian yang berkaitan dengan pemberian nikmat dan ujian. Dengan kata lain, setiap helaan nafas yang keluar sebagai sarana (wadah) bagi suatu peristiwa, maka jangan sampai ia digunakan untuk berbuat kemaksiatan dan perbuatan terkutuk lainnya kepada Allah Ta'ala.
Demikianlah pesan Syaikh Ibn 'Atha'illah.

Senin, 28 Juni 2010

Al-Hikam

Gantungkan Hidupmu Hanya Kepada Allah


"Permintaanmu kepada-Nya berarti suatu tuduhan terhadap-Nya. Permintaanmu bagi-Nya (agar Allah mendekatkan dirimu) menunjukkan engkau jauh dari-Nya. Engkau meminta kepada selain-Nya, berarti engkau tidak punya rasa malu kepada-Nya. Dan engkau meminta dari selain-Nya, disebabkan karena engkau jauh dari-Nya."


Penjelasan :

Meminta kepada Allah Ta'ala yang dimaksudkan di sisni adalah atas apa yang telah menjadi kewenangan-Nya untuk memberi, serta sudah menjadi ketetapan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dimana Allah tidak mungkin mengingkari ketetapan dan janji-Nya. Tinggal bergantung pada usaha dan ketawakalan kita sebagai makhluk-Nya.
Syaikh Ibn 'Atha'illah lebih lanjut menjelaskan, bahwa untuk urusan kebutuhan duniawi, kita tidak pantas meminta kepada-Nya. Yang pantas untuk kita lakukan adalah mencari demi mencapai keridhaan-Nya. Dan lebih tidak pantas lagi jika kita meminta kepada selain-Nya. Adapun yang pantas untuk kita ajukan kepada-Nya hanyalah terhadap semua urusan yang berkaitan dengan kebutuhan akhirat.

Minggu, 27 Juni 2010

Al-Hikam

Bisikan Dari Suara Hakikat


"Himmah (hasrat) seorang salik takkan berhenti ketika tersingkap baginya tirai rohani, melainkan suara-suara hakikat (hawaatif al-haqiiqah) akan berseru padanya, 'Apa yang engkau cari masih ada di depanmu!' Tidak pula terlihat keindahan alam, melainkan hakikatnya akan menyeru padamu, 'Kami hanyalah batu ujian (fitnah), maka janganlah engkau kafir.'"


Penjelasan :

Syaikh Ibn 'Atha'illah ingin menjelaskan kepada kita, bahwa kita harus benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah atas segala apa yang kita lakukan, baik ketika kita mengerjakan perintah-Nya, maupun ketika kita meninggalkan semua larangan-Nya. Ini memotifasi kita untuk meluruskan niat menuju Allah Ta'ala.

Sabtu, 26 Juni 2010

Al-Hikam

Jangan Meminta Allah Mengubah Kehendak yang Sudah Ditetapkan


"Jangan meminta kepada Allah supaya Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Sekiranya Dia menghendaki yang demikian, maka tentulah Dia akan memasukkanmu tanpa mengeluarkanmu dari keadaan yang sebelumnya."


Penjelasan :

Ada kisah tentang seorang saleh yang terbiasa bekerja dan beribadah. Suatu ketika ia berucap, "Seandainya setiap hari aku mendapatkan dua potong roti tanpa harus bekerja, maka aku akan lebih leluasa beribadah kepada Allah sepanjang hari." Beberapa saat berlalu, ia dinyatakan bersalah atas suatu masalah, hingga ia harus mendekam di dalam penjara untuk beberapa waktu lamanya. Dan setiap hari (di dalam penjara) ia mendapatkan dua potong roti (tanpa harus bekerja). Setelah cukup lama berada di dalam penjara, ia mulai tersiksa dan bertanya-tanya tentang nasibnya. Kemudian ia teringat akan apa yang pernah diucapkannya dahulu. Dan seketika itu ia memohon ampun kepada Allah Ta'ala atas 'permintannya' yang menyalahi kehendak Allah.

Jumat, 25 Juni 2010

Al-Hikam

Jangan Sia-Siakan Kesempatan Untuk Beramal Saleh


"Menunda beramal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang, termasuk tanda kebodohan jiwa."


Penjelasan :

Penundaan tersebut bisa disebabkan karena lebih mengutamakan urusan dunia dan lupa terhadap ajal (kematian) yang bisa datang menjemput setiap saat. Dan itu dapat menyebabkan lemahnya niat serta berubahnya tujuan (orientasi) amal itu.

Kamis, 24 Juni 2010

Al-Hikam

Jangan Menginginkan Sesuatu yang
Tidak Dikehendaki oleh-Nya


"Sungguh jahil orang yang menginginkan terjadinya sesuatu di luar waktu yang dikehendaki oleh Allah."


Penjelasan :

Pesan Syaikh Ibn 'Atha'illah, bahwa sebaiknya seorang hamba berserah diri dengan tulus kepada apa yang telah menjadi ketentuan (hukum) Allah Ta'ala di setiap waktu. dan juga harus meyakini, bahwa Allah itu Mahabijaksana lagi Mahakuasa.

Rabu, 23 Juni 2010

Al-Hikam

Allah Lebih Dekat Kepada Hamba-Nya


"Bagaimana mungkin dapat dibayangkan, kalau sesuatu dapat menjadi hijab atas-Nya, padahal Dia-lah yang menampakkan segala sesuatu?"

"Bagaimana bisa dibayangkan, kalau sesuatu mampu menjadi hijab atas-Nya, apabila Dia-lah yang tampak ada pada segala sesuatu?"

"Bagaimana mungkin dapat dibayangkan, kalau sesuatu mampu untuk menjadi hijab atas-Nya, padahal Dia-lah yang terlihat dalam segala sesuatu?"

"Bagaimana bisa dibayangkan, kalau sesuatu mampu menjadi penghalang atas-Nya, padahal Dia-lah yang Mahatampak atas segala sesustu?"

"Lalu bagaimana dapat dibayangkan, ada sesuatu mampu untuk menjadi penghalang atas-Nya, sedangkan Dia-lah Yang Mahaada sebelum adanya segala sesuatu?"

"Bagaimana pula bisa dibayangkan, kalua sesuatu mampu menjadi penghalang bagi-Nya, sementara Dia (keberadaan-Nya) lebih jelas (tampak) dari segala sesuatu itu sendiri?"

"Dan bagaimana mungkin Dia akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Yang Mahaesa, yang tidak ada disamping-Nya sesuatu apapun."

"Bagaimana mungkin segala sesuatu akan mampu menghalangi-Nya, jika Dia dekat kepadamu dari segala sesuatu itu sendiri?"

"Bagaimana mungkin Dia bisa dihalangi oleh sesuatu, sementara apabila tidak ada Dia, niscaya tidak akan ada segala seseuatu itu?"

"Alangkah mengherankan, bagaimana mungkin keberadaan sesuatu yang 'pasti ada' (Allah) bisa terhalang oleh sesuatu yang (sebelumnya) 'tidak ada' (adam, yaitu makhluk)?
Bagaimana mungkin pula sesuatu yang baru (al-hadits, yaitu makhluk) dapat bersama dengan Zat yang memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan)?"


Penjelasan :

Hakikat akan sesuatu yang sebelumnya tidak ada (makhluk) itu adalah berupa kegelapan. Sedangkan wujud Allah Ta'ala itu laksana cahaya yang meneranginya. Pesan ini juga bermakna, bahwa kebenaran (Al-Haq) itu selamanya tidak akan mampu menyatu dengan kebatilan. Dan kebatilan akan hancur jika berusaha melawan kebenaran.

Selasa, 22 Juni 2010

Al-Hikam

Dia Menghalangimu untuk Melihat-Nya


"Di antara bukti yang memperlihatkan adanya kekuasaan Allah yang Mahasuci adalah, bahwa Dia menghalangimu dari melihat-Nya dengan tabir yang tidak wujud di sisi-Nya."


Penjelasan :

Adanya Allah Ta'ala tidak dapat disamakan (dipadan-kan) dengan keberadaan makhluk. Oleh karena itu para arifin telah bersepakat, bahwa segala sesuatu selain Allah dinyatakan tidak ada. Sebab, keberadaan makhluk sepenuhnya bergantung kepada kehendak dan karunia dari Allah Ta'ala. Atau dengan kata lain , 'seperti bayangan' yang senantiasa 'bergantung' kepada apa yang membayanginya.

Senin, 21 Juni 2010

Al-Hikam

Cahaya Makrifat Terhalang Oleh
Benda-Benda Alam


"Alam ini serba gelap. Ia menjadi terang hanyalah karena manifestasi (zhahir) Allah di dalamnya. Siapa melihat alam, namun tidak menyaksikan Allah di dalam atau bersamanya, sebelum atau sesudahnya, maka ia sangat memerlukan cahaya, dan surya makrifat terhalang baginya oleh awan benda-benda alam."


Penjelasan :

Apabila seorang hamba menyaksikan alam semesta ini beserta isinya, juga semua makhluk ciptaan Allah Ta'ala yang melata di bumi, lalu ia tidak mampu untuk mengetahui akan keberadaan-Nya, maka sungguh hatinya terhalang dari Allah, atas semua benda (makhluk) itu. Demikian Syaikh Ibn Atha'illah mengingatkan kita untuk segera menyadarinya.

Minggu, 20 Juni 2010

Al-Hikam

Belenggu yang Menghalangi Jalan Menuju Allah


"Bagaimana hati dapat bersinar, sementara gambar-gambar duniawi tetap terlukis dalam cermin hati itu? Atau bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah, kalau masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau, bagaimana mungkin seseorang akan antusias menghadap kehadirat Allah, apabila hatinya belum suci dari 'junub' kelalaiannya? Atau, bagaimana mungkin seorang hamba bisa memahami kedalaman berbagai rahasia, sementara ia belum bertobat dari kesalahannya."


Penjelasan :

Adalah mustahil untuk menyatukan kebaikan dan keburukan, sebagaimana mustahilnya menyatukan antara malam dan siang.

Sabtu, 19 Juni 2010

Al-Hikam

Manfaat Uzlah Bagi Qalbu


"Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi qalbu sebagaimana uzlah, sebab dengan memasuki uzlah (perenungan) pikiran kita jadi luas."


Penjelasan :


Menyendiri, atau melakukan perenungan, merupakan langkah terbaik guna mengisi qalbu yang tengah mencari jatidiri menuju Allah Ta'ala.

Jumat, 18 Juni 2010

Al-Hikam

Bahaya Jabatan dan Ketenaran


"Tanamlah wujudmu dalam bumi yang tersembunyi (agar tidak dikenali orang), karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, maka buahnya tidak akan sempurna."


Penjelasan :

Keinginan hawa nafsu yang utama adalah terpenuhinya semua jenis kebutuhan, tanpa kecuali. Dan kedudukan seseorang di tengah masyarakat mempermudah jalannya nafsu untuk memenuhi semua kebutuhan itu. Oleh karenanya, Syaikh Ibn 'Atha'illah sangat mengingatkan kepada kita akan bahaya ketenaran, jabatan publik dan sejenisnya. Posisi itu amat rentan terhadap munculnya sifat-sifat buruk yang ditimbulkan oleh hawa nafsu, seperti riya', sombong dan sebagainya.

Rabu, 16 Juni 2010

Al-Hikam

Ruh dari Amal Adalah Keikhlasan


"Amal itu beragam, lantaran beragamnya keadaan yang menyelinap ke dalam hati (jiwa). Amal itu merupakan kerangka yang tetap (mati, tidak bergerak), dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada (melekat) padanya."


Penjelasan :

Setiap hamba yang saleh, yang sedang menuju ke suatu maqam (tingkatan) tertentu akan merasakan kenikmatan di dalam menjalankan setiap perintah Allah Ta'ala. Karena mereka mengerti di dalam rangkaian ibadah yang mana mereka dapat merasakan kenikmatan.

Yang dimaksud oleh Syaikh Ibn Atha'illah disini, keikhlasan seseorang dalam beramal adalah semata ditujukan kepada Allah sebagai zat yang memiliki sang hamba. Dan memang dalam hal ini dikenal dengan (terdapat berbagai) tingkatan, sesuai dengan taufig yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepada sang hamba.

Selasa, 15 Juni 2010

Al-Hikam

Dibukanya Pintu Makrifat


"Apabila Allah telah membukakan salah satu jalan makrifat (mengenal Allah) bagimu, maka jangan hiraukan mengapa itu terjadi, walaupun amalmu masih sangat sedikit. Allah membukakan pintu itu bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau mengerti, bahwa makrifat itu merupakan anugerah-Nya kepadamu? Sedang engkau mempersembahkan amal-amalmu kepada-Nya? Maka apalah artinya apa yang engkau persembahkan kepada-Nya itu dengan apa yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu."


Penjelasan :

Mengenal Allah Ta'ala merupakan kebutuhan bagi setiap hamba. Hingga manakala Dia telah membukakan pintu (jalan) menuju makrifat kepada-Nya, maka hal itu merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan.

Senin, 14 Juni 2010

Al-Hikam

Tertundanya Pengabulan Doa


"Terlambat datangnya pemberian (Allah), mesti sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."

Penjelasan :

Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri. Karena Allah sendiri sudah mengatakan dalam sebuah firman-Nya,
"Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada hak bagi mereka untuk memilih." (al-Qashsh: 68)

Dan hendaknya kita senantiasa mengingat firman Allah Ta'ala berikut ini,
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)

Syaikh Ibnu 'Atha'illah juga mengingatkan,

"Tidak terlaksananya sesuatu yang dijanjikan oleh Allah, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu. Ini agar tidak mengaburkan bashirah-mu (pandangan mata batin) dan memadamkan nur (cahaya) hatimu."

Penjelasan:
Sebagai hamba, manusia tidak mengetahui kapan persisnya Allah akan menurunkan karunia dan rahmat-Nya. Sehingga apabila seseorang melihat tanda-tanda tertentu, maka ia akan menduga bahwa itulah saat yang dijanjikan oleh Allah. Sementara dari sisi Allah, sebetulnya masih ada persyaratan yang Dia kehendaki atas diri hamba itu yang belum terpenuhi. Jadi, jangan sampai menuduh Allah melanggar janji-janji-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

"Ingatlah, bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (al-Baqarah: 214)

Dalam firman Allah yang lain digambarkan, bahwa manusia itu memiliki sifat cenderung tergesa-gesa.

"Dan adalah manusia itu bersifat tergesa-gesa." (al-Israa': 11)

Minggu, 13 Juni 2010

Al-Hikam

Rezeki yang Sudah Ditetapkan


"Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya bashirah (mata batin)."

Penjelasan :

Nasihat bijak ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengejar apa yang sesungguhnya telah dijamin oleh Allah Ta'ala atas seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sebagaimana disitir oleh Allah Ta'ala di dalam sebuah firman-Nya,
"Dan berapa banyak binatang melata yang tidak (mampu) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, juga Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui." (al-'Ankabuut: 60)

Juga firman Allah yang lain,
"Kami (Allah) tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa." (Thaahaa: 123)

Seorang bijak yang bernama Ibrahim al-Khawwash pernah berkata,
"Janganlah memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (untuk dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang telah diamanahkan (diwajibkan) kepadamu untuk memenuhinya."

Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya Allah sangat mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan sebaik-baiknya." (HR. Abu Ya'la dan al-Asykari)

Sabtu, 12 Juni 2010

AL-HIKAM

Tak Perlu Mengatur
Semua Urusan Dunia


"Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi) dengan susah payah. Karena, sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah), tidak perlu engkau turut mengurusnya."

Penjelasan:

Syaikh Ibn Atha'illah mengingatkan kepada kita akan pemahaman yang salah pada kebanyakan orang mengenai mutiara hikmah ini. Hingga cenderung memunculkan gambaran negatif yang bisa membawa pengaruh buruk dalam tata kehidupan masyarakat Islam. Menurut Syaikh, seorang hamba harus mengenal kewjiban yang dibebankan Allah atas dirinya, termasuk juga tugas untuk mengurus dan menata dunia. Sedangkan apa yang menjadi haknya, merupakan kewenangan bagi 'Sang Pemberi' kewajiban untuk menentukannya. Oleh karena itu, ia tidak perlu lagi merasa risau berlebihan atas keputusan-Nya. Sebab kerisauan semacam itu justru menunjukkan lemahnya iman sang hamba.

Kamis, 10 Juni 2010

Petuah Bijak

"MULIAKANLAH ORANG BERIMAN MESKIPUN BERBUAT DOSA DAN MAKSIAT. SURUHLAH MEREKA BERBUAT BAIK DAN CEGAHLAH MEREKA DARI KEMUNGKARAN.
JAUHI MEREKA DENGAN PERASAAN KASIHAN, BUKAN DENGAN MERASA LEBIH MULIA DARI MEREKA". ( Syekh Abu Al-Hasan )

Sabtu, 05 Juni 2010

Nasehat Perampok Kepada Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, pujangga Islam yang terkenal itu, berasal dari negara Thus, sebuah daerah yang berbatasan dengan Mashat. Pada masa itu, lebih kurang pada abad kelima hijriah, Naishabur (daerah yang tidak jauh dari Thus) merupakan pusat ilmu pengetahuan di kawasan tersebut.

Biasanya, penduduk sekitar Thus akan pergi menuntut ilmu di Naishabur, tak terkecuali Al-Ghazali. Ia pergi ke Naishabur dan Gurgan. Dengan semangat yang tinggi, bertahun-tahun ia belajar kepada ulama-ulama dan orang-orang bijak setempat.

Untuk menjaga ilmu pengetahuan yang diperolehnya, ia mencatat setiap yang didapat dari guru-gurunya. Ia sangat mencintai jerih payahnya ini, bagaikan dirinya sendiri.

Dan setelah bertahun-tahun belajar, akhirnya Al-Ghazali berencana untuk pulang ke kampung halamannya. Al-Ghazali menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Ditengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segerombolan perampok. Mereka mengambil setiap barang yang dijumpai.

Pada giliran barang-barang bawaan Al-Ghazali, ia berkata kepada perampok tersebut, "Kalian boleh ambilsemua barang-barangku, tapi tolong jangan kalian ambil yang satu ini." Gerombolan perampok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang bernilai. Secepat kilat mereka merebut dan membukanya. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali setumpukan kertas-kertas yang hitam.

"Apa ini? Untuk apa kau menyimpannya?" tanya perampok itu.

"Itulah barang-barang yang tidak akan berguna bagi kalian, tapi berguna bagiku," jawab Al-Ghazali.

"Apa gunanya?"

"Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun," jawab Al-Ghazali. "Jika kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan akan habis, dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia."

"Hanya yang ada dalam lembaran-lembaran inikah ilmumu?" tanya salah seorang perampok. "Ya", jawab Al-Ghazali.

Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan yang dapat dicuri, sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkanlah nasib dirimu baik-baik."

Ucapan sederhana yang keluardari mulut perampok tersebut, betul-betul mengguncang jiwa dan kesadaran Al-Ghazali. Ia yang sampai saat itu masih berfikir untuk sekedar mengikut ustadnya dan mencatat ilmunya di buku-buku tulis saja, seketika berubah pikiran, yakni berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisa, lalu menyimpan ilmu-ilmu yang bermanfaat itu di "buku otaknya".

Al-Ghazali berkata, "Sebaik-baik nasehat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasehat yang kudengar dari mulut seorang perampok."











Jumat, 04 Juni 2010

Hari yang Bersejarah

4 Juni 1980, itulah hari yang bersejarah bagiku. Karena pada hari itulah aku dikeluarkan dari rahim ibuku oleh Allah, pada hari itu untuk pertama kalinya aku menghirup udara dan entah untuk yang keberapa kalinya aku menerima nikmat Allah S.W.T, dan pada hari itulah untuk pertamakalinya aku disentuh oleh setan yang terkutuk.

Aku tidak tahu kenapa aku menulis kisah ini di dalam blogku, mungkin aku lagi ingin curhat kepada siapapun yang membaca (kalau ada), atau mungkin aku cuma ingin merayakan hari ulangtahunku saja (sendirian). Ya...inilah aku, aku bukan siapa-siapa, bukan orang penting, ngak punya apa-apa dan ngak bisa apa-apa, aku cuma hamba Allah biasa, bukan wali, bukan auliya, bukan ulama, bukan pula kyai apalagi Nabi. Aku cuma manusia biasa, salah satu dari sekian banyak makhluk Allah dan aku termasuk golongan yang biasa bukan yang istimewa. Tapi meskipun aku makhluk yang biasa namun Allah tidak pernah tidak memperhatikanku, justru sebaliknya Allah terus memperhatikanku dan terus memberikan nikmatnya tanpa henti kepadaku. Namun sayang, karena kebodohanku aku selalu protes sama Allah, selalu minta dan menuntut Allah supaya memenuhi keinginanku. Astaghfirlah...Ya Allah ampuni dosa-dosa hambamu yang tidak tahu diri, tidak tahu malu dan tidak tahu terimakasih ini ya Allah...Aku ini kotor, hina rendah, dan nista.

Ya Allah, aku ini tidak pantas masuk surga-Mu, tapi aku tidak kuat jika harus ke neraka-Mu.
Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan aku, Engkaulah yang membawaku ke dunia ini, sehingga aku terhijab dari-Mu dan lupa kepad-Mu. Jika kau menakdirkan aku untuk lebih lama lagi di dunia ini, aku memohon kepada-Mu, perkenankan aku mengenalmu di dunia ini sebelum engkau memanggilku.
Ya Allah, engkaulah Tuhan yang aku tahu. Kepada siapa lagi aku memohon kalau bukan kepadamu.

Ya Allah, jangan kau hijab diriku dari diri-Mu.
Ya Allah, jadikan aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.
Ya Allah, disisa umurku ini aku ingin bisa beribadah kepad-Mu lebih khusyuk, lebih ikhlas, lebih sabar, dan bisa istiqomah dalam menjalan semua perintah-Mu dan mejauhi larangan-Mu.
Ya Allah, aku cuma bisa mengharapkan ridha-Mu. Amin...Amin...Ya Rabbal 'alamin.

Kamis, 03 Juni 2010

Al-Hikam

Tak Ada yang Mampu Mengubah Ketentuan Allah

"Himmah yang kokoh takkan mampu menembus dinding takdir."

Penjelasan:

Sebagian orang ada yang memiliki hasrat cukup tinggi. Sampai ada yang berkhayal, bahwa mereka mampu untuk mengubah hukum alam (sunnatullah) dalam waktu cepat. Pemikiran semacam ini muncul dari keinginan untuk melakukan perubahan tanpa diimbangi dengan data yang kuat tentang serangkaian sebab dan akibat yang mungkin terjadi. Seakan-akan mereka merupakan firman Allah Ta'ala berikut ini,
"Dan kamu tidak dapatmenghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb seluruh alam." (at-Takwir:29)

Juga firman Allah Ta'ala yang lain
"Dan tidaklah engkau mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah menghendaki. Sungguh Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana." (al-Insaan: 30)

Rabu, 02 Juni 2010

Al-Hikam

Antara Urusan Dunia dan Akhirat

"Keinginannmu untuk tajrid (meninggalkan urusan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menempatkan engkau pada asbab (usaha, dimana Allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan), adalah termasuk dalam (bisikan) syahwat yang samar.
Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari himmah (tekad spiritual) yang luhur."

Penjelasan :

Syaikh Ibn Atha'illah mengajak untuk memperhatikan, bahwa kecenderungan semacam ini (tajrid) kadang muncul akibat pengaruh hawa nafsu, bukan karena pengaruh rasa cinta yang tulus terhadap akhirat.
Bagi mereka yang melangkahkan kaki di jalan Allah, yang dalam hatinya terbesit keinginan untuk meninggalkan asbab dan aktivitas duniawi karena dorongan cintanya kepada Allah, maka Syaikh berpesan agar mereka itu memperhatikan adap dalam beramal. Yaitu, apabila Allah Ta'ala meletakkan kita pada asbab, maka tetaplah berpijak atasnya. Dan jika ketetapan itu tidak sesuai dengan keinginan kita, maka tetaplah atasnya. Sebab, Allah kadang menahan asbab itu dari kita.

Selasa, 01 Juni 2010

Al-Hikam

Bersandar Diri Hanya Kepada Allah


"Salah satu tanda bergantungnya seseorang kepada amalnya adalah kurangnya raja' (harapan terhadap rahmat Allah) tatkala ia mengalami kegagalan (dosa)."

Penjelasan:

Guna meraih keridhaan Allah Ta'ala, seorang muslim diwajibkan untuk beramal. Tapi dalam waktu yang bersamaan diwajibkan pula pada kita untuk tidak menyandarkan diri kepada amalnya itu semata. Semua ini dimaksudkan agar dapat sampai pada keridhaan-Nya. Karena, betapapun seorang muslim itu telah melaksanakan suatu amalan, ia tidak akan pernah mampu untuk menunaikan apa yang menjadi 'hak Allah' secara utuh. Juga, ia tidak mungkin mampu melakukan seluruh kewajiban secara sempurna sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Oleh karena itu Syaikh Ibn 'Atha'illah rahimahullah berkata, bahwa salah satu tanda dari seseorang yang menyandarkan diri pada kekuatan amal usahanya semata adalah berkurangnya raja' (harapan terhadap rahmat dan karunia Allah Ta'ala) ketika ia melakukan kesalahan (dosa), atau tidak tercapainya suatu tujuan.

Ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Salam (saw), "Berlakulah kalian setepat dan secermat munkin (proporsional). Sebab ketahuilah, bahwa amal salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga."

Mereka (para sahabat) bertanya, 'Lalu bagaimana dengan Anda, wahai Rasulullah?'

Beliau menjawab, 'Aku juga, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan kasih sayang (rahmat)-Nya.' (Diriwayatkan oleh enam imam hadits)

Penerjemah: Dr. Ismail Ba'adillah