DEBAT DI IDUL QURBAN
Seorang anak muda di Surabaya, ketika berlangsung Idul Adha kemarin, begitu bersemangat ingin mengirim SMS ke kawan-kawannya. Rupanya ada trend baru, selain ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Selamat Tahun Baru, kini mulai muncul trend selamat Idul Adha. Karena, sedang gandrung ke tasawuf, ia selalu ingin mengirim pesan selamat ala sufi, dengan materi yang sok Gusti Allah. (tapi semoga demikian). "Semoga Anda semakin dekat dengan Allah melalui Idul Adha ini." Ucapan yang baik dan terhormat.
Tapi ia mendapat balasan yang cukup memedihkan. "Agar Anda lebih dekat dengan Allah, sembelihlah nafsumu hari ini. Sebab saya tahu Anda tidak punya duit untuk berkorban."
"Lho, untuk menuju kepada Allah kan perlu nafsu!", balasnya.
"Nafsumu harus sirna dulu, hingga menyatu dengan nafsu-Nya."
"Memang Allah punya nafsu?" ia balik bertanya.
"Nafsu-Nya adalah Diri-Nya, dan dalam Diri-Nya."
"Maksud anda?"
"Ingat hadist, "Nafsur-Rahmaan"? Itulah, bahan Anda menyatu dengan-Nya."
"Jadi benar dong, kalau saya ke sana (Allah), dengan nafsu?"
"Salah!"
"Lho?"
"Karena kamu tidak bisa menuju kepada-Nya dengan nafsumu...."
"Hmmmm........"
Tapi ia mendapat balasan yang cukup memedihkan. "Agar Anda lebih dekat dengan Allah, sembelihlah nafsumu hari ini. Sebab saya tahu Anda tidak punya duit untuk berkorban."
"Lho, untuk menuju kepada Allah kan perlu nafsu!", balasnya.
"Nafsumu harus sirna dulu, hingga menyatu dengan nafsu-Nya."
"Memang Allah punya nafsu?" ia balik bertanya.
"Nafsu-Nya adalah Diri-Nya, dan dalam Diri-Nya."
"Maksud anda?"
"Ingat hadist, "Nafsur-Rahmaan"? Itulah, bahan Anda menyatu dengan-Nya."
"Jadi benar dong, kalau saya ke sana (Allah), dengan nafsu?"
"Salah!"
"Lho?"
"Karena kamu tidak bisa menuju kepada-Nya dengan nafsumu...."
"Hmmmm........"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar